edelweiss


Pagi.. aku ingin kembali berkisah tentangmu,....
Bila ku sebut kau langit dan aku bumi?? aku hujan kau pelangi?? mereka akan membenarkannya. Kenapa kita begitu berbeda? sangat berbeda. Coba kau lihat kapan langit dan bumi bertemu tuk sekedar bertegur sapa? kapan hujan dan pelangi hadir bersamaan tuk sekedar saling tatap?? sesaat hujan pergi, pelangi muncul, iyakan?? Seolah pertemuan itu memang tak pernah ada.
Pun ketika langit membuka mata, melihat sekelilingnya, menyilaukan, kau memilihnya, itu bukan bumi. karena bumi kala itu luput dari pandanganmu.. ia ada disemak belukar sana, menyaksikan kau memilih satu diantara banyak warna. bila kau elang, aku memang terlalu kerdil untuk disambar, aku tak terlihat, dan aku tak bersinar, adalah wajar bila kau tak melihatku apalagi memilihku. aku menyaksikan semuanya.  
Waktu tak mampu mengubahnya sedikitpun. Tak ada yang berubah. Masih berharap elang kan menyambarnya membawanya terbang tinggi melintasi lazuardi langit biru. Hmmm.. pagi mulai hangat kawan.. saatnya memulai hari, tapi aku belum selesai berkisah.. kau mesti tau sesuatu..sampai ceritaku usai.
Sabtu teramat mendung di september kala itu, atas kenyataan hari itu aku mengerti bahwa ia ingin ku tak melihatnya lagi. Mungkin... mungkin itu yang bisa ku simpulkan. Atas ketidakpahamanku mengapa batas antara kita semakin nyata bahkan kini tak bisa kutembus dengan apapun. Mengapa kita semakin berbeda? Bukan sebagai langit dan bumi lagi, kita berbeda .. yang berhenti dan yang masih berdetak. Bisa ku terima itu?? Hari itu berlalu, seperti berjalan diatas angin.
Aku yakin aku bukan karang yang tahan terjangan ombak, hingga pada akhirnya....
Kutitip rasaku tuk sementara waktu, pada kuncup edelweiss di puncak gunung sana, bahwa kesendirian kadang menghadirkan kau yang sesungguhnya.
Adalah wajar jika rindu tak bisa ditawar.

                                                                               




^^to the one who showed me mountain
thank you^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman hamil dan melahirkan di Jepang (part 1)

Resep Masakan Jepang, Tempura dan Somen

Perlengkapan Bayi Baru Lahir