Yokohama Chocolate

cerita siang tadi,.

Aku dan si kecil pulang bermain dari children center (tempat nongkrong Megumi dan mamak), melintasi jalan pulang seperti biasa, dibawah terik matahari di musim panas. sambil mendorong stroller bayi, tetiba seorang nenek mendekati kami. ia kemudian memperhatikan megumi dan mengajakku bicara. seringkali kakek atau nenek atau ibu ibu menyapa ramah lalu kemudian memperhatikan megumi. sudah menjadi kebiasaan orang disini menyapa ramah dan tersenyum pada bayi. kebanyakan orang jepang kuperhatikan ternyata senang sama bayi. mereka biasanya akan tersenyum, menyapa "konnichiwa" (hai/halo), dan melambaikan tangan. tak jarang juga mereka mendekat mengajak ngobrol sekedar bertanya, nan sai desuka ?? (umur berapa tahun)?? ini pertanyaan paling umum dan paling sering muncul. rasanya dunia lebih ramah sejak aku punya anak hehe. 

Balik lagi ke cerita tadi. jadi si nenek mendekat dan memperhatikan Megumi. si bayi yang berusia 11 bulan inipun balas memperhatikan. kemudian nenek mulai bertanya, bayi umur berapa? berasal dari mana? ngapain disini/ sekolah/kerja?? (ini pertanyaan yg juga seringkali muncul, tapi kali ini si nenek nanyanya agak banyak hihi), dan untungnya aku sudah hapal jawabannya wkwk. maklum bahasa jepangku masih sangat minim, belum masuk level manapun walaupun hampir 2 tahun tinggal di jepang (hikss). ganbatte ne. hehe

Mata Megumi yang besar (khas orang padang hehe) menarik perhatiannya. "matanya besar, kawaiii ne" (cute ya). si gumi balas senyum. si bayi yang bentar lagi setahun ini mulai bisa merespon orang sekitar. apalagi kalau mendekati dirinya. kadang membalas tatapannya. si nenek. wah giginya sudah ada ya, si nenek liat aja yaa. lalu kemudian dia masih senang memperhatikan megumi, dan makin senang ketika megumi melambaikan tangan (tentu dengan gaya melambainya yang belum sempurna seperti kita) si nenek makin senang. hehe

Suami orang Indonesia?? tanya si nenek, iyaaa jawabku, suami sedang kuliah/belajar disini. entah kaget atau takjub, karena memang di jepang tak lazim, menikah punya anak tapi masih kuliah. idelnya di jepang biasanya menikah setelah kerja dan berpenghasilan. hmmm. taihen ne. beraat yaa,,ujarnya simpati. 

Kemudian keluarlah dalam tasnya satu kotak coklat yang katanya dia beli di yokohama (oleh oleh khas dari yokohama). diberikan satu padaku. ini milk coklat katanya, buat papa dan mama. megumi belum boleh makan kan ya. punyanya 2 kotak, 1 diberikan padaku. arigatou gozaimasu (terima kasih), sambil membungkuk (laykany kebiasaan orang jepang). lalu kemudian dia melambaikan tangan, sambil memegang tangan megumi . mata ne (sampai jumpa). bye bye. Megumi kecil melambaikan tangannya. kemudian kami berpisah. begitulaaah,...

Apa yang kupetik dari kisah sederhana ini?
*Aku membayangkan kalau nenek tadi adalah ibuku . seperti melihat kerinduan di sinar matanya. megumi sama sekali belum pernah bertemu neneknya dan nenek dari papa (ibu mertua). ada haru yang tetiba muncul dihati ini. semoga pertemuan itu tak lama lagi. kerinduan akan ibu pada anak dan cucunya. sabar ya dek, sebentar lagi bertemu nenek insya allah. 
*Sejujurnya, setelah punya anak, dunia menjadi lebih ramah, ibu- ibu, nenek- nenek, tak jarang kakek-kakek seringnya menyapa ramah karena senang melihat bayi, senang sama bayi. jadi semacam ada obrolan ketika ada bayi dibandingkan hanya diri sebatang (apa juga yang maau di obrolin ya, hehe)
*Sesederhana coklat ini, pemberian ini adalah rejeki, yang allah berikan lewat anak. maka menurutku tidak salah jika, anak adalah sumber rejeki.
*semoga jepang makin sadar yaa kalau punya anak nggak nunggu kaya dulu, toh setiap manusia sudah dijamin rejekinya, asal giat berusaha dan mencari.




coklat sepatu merah ☺☺

kawasaki, japan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman hamil dan melahirkan di Jepang (part 1)

Perlengkapan Bayi Baru Lahir

Resep Masakan Jepang, Tempura dan Somen