pendamping (yang berusaha) kuat

kadang melihat ketidakwajaran akan sesuatu bisa menerbitkan rasa syukur. seperti siang ini di sebuah rumah sakit. banyak pemandangan tak biasa. aku mendampingi seseorang hari ini. sebenarnya aku keberatan. kalau bukan perintah orang tua, sepertinya aku lebih memilih untuk tidak ikut. bukan tak mau, justru aku tak sanggup. mungkin disini keberanian tengah di uji. baiklah. aku harus melewati hari ini. 
hasil biopsi seperti yang ku perkirakan. tak jauh bergeser dari hasil yang pertama. kalau kata ibu, ini bisa saja berubah (menjadi tidak ganas), akupun berharap sangat. ini adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak bu. 
kami menunggu jadwal konsultasi. sembari menunggu, bapak tua disampingku bercerita, dia pun mengalami hal yang sama. KNF tujuh tahun yang lalu. wajah tuanya seperti membaca kegelisahanku. bagaimana tidak. pikiran aneh dan negatif itu bermunculan melihat sekitar dengan berbagai kondisi tak wajar. "saya lebih baik tidak diantar keluarga, demi menjaga perasaan mereka yang jauh lebih tertekan melihat kondisi saya". 
hoooo. agak lama aku menelan kata katanya. mungkin ada benarnya. yang mereka butuhkan justru kekuatan. bukan wajah cemas dan khawatir yang berkepanjangan. aku mengingat diriku. menyembunyikan ekpresi saat menghadapi situasi sulit. mudah saja. tapi tidak dengan gemuruh dalam diri. membuat diri setenang mungkin. namun kali ini agak sulit setiap kali ada yang melintasiku dengan kondisi yang menyedihkan. akan seperti itukah "ia" nanti?? oh tuhan.
ruang konsultasi lantai 4 mulai lengang. bapak tua ini masih menunggu. saat akhirnya kami di panggil duluan. 
bertemu dengan sosok berbaju putih ini (jadi ingat dulu pernah sangat ingin jadi dia), konsultasi singkat dengan skema yang jelas untuk agenda selanjutnya. masih ada sebulan lagi. barangkali ini waktu yang singkat untuk mempersiapkan diri melihat sosok disamping ini berubah. entah itu dengan rambut yang akan perlahan habis. tubuh yang mengecil. oh tuhaan. 
siang beranjak sore. rumah sakit ini takkan pernah sepi. ada banyak jiwa yang bertaruh disana. tetiba merinding membayang apa yang akan terjadi entah itu sebulan, dua bulan atau beberapa waktu kedepan. kita takkan pernah tahu. saat ini mereka butuh senyuman. bahagaikan dirimu, merekapun turut merasakannya. 
" segala puji bagi allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami (QS fathir : 34)".


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman hamil dan melahirkan di Jepang (part 1)

Perlengkapan Bayi Baru Lahir

Resep Masakan Jepang, Tempura dan Somen